everyday is fun

Cityscapers: by the throat “finding the nexus between Edinburgh and Glasgow”

Posted by: wiryanata on: June 12, 2008


Tidak ada yang lebih funky selain bangun pagi dan keluar flats dengan kostum: jeans, dan lapisan sweaters, dan coat, dan gloves, dan kamera, dan sneakers, dan apapun, dan tidak lupa, kupluk bulu musang! Dan Kemudian bergegas menuju lift.

Beberapa detik sebelum pintu lift tertutup, tiba muncul seorang Jepang tergesa yang menyelinap masuk ke dalam lift sambil cengar-cengir. Gayanya membuat teori style funky saya tadi menjadi luar biasa termentahkan dan tidak valid, yeah his outlook definitely was the definition of ‘fashion’ at the moment. Ada-ada saja orang luar itu, mungkin ini interface pertama saya di sebuah workshop bernama ‘cityscapers’ yang akan selanjutnya dibeberkan pada paragraph naratif di bawah ini.

kami berkenalan, dan sebut saja dulu dia kouhei sasahara. Salah satu student workshop super glorious cityscapers: by the throat” ini, Kouhei hanya satu dari kurang lebih 40 orang students lainnya yang sudah menunggu di depan flats, dengan jaket yang sama tebalnya, dengan kepulan embun dan ransel yang sama beratnya, menunggu berangkat ke ‘kampus’ berombongan, menunggu berkenalan dan saling bertukar pemikiran. Pagi itu komentator di langit mungkin berkata, ‘selamat datang di cityscapers anak muda hahah!

Cityscapers: by the throat “finding the nexus between Edinburgh and Glasgow”, sebuah workshop international yang diadakan oleh british council dan beberapa stakeholder di tiap Negara terkait yang bertempat di Edinburgh, Scotland UK terhitung dari 29 maret – 12 april 2008. Sebuah workshop multi-disiplin (dari art, architecture, urban-planning sampai engineering) yang bertujuan untuk mengkaji permasalahan kota (Edinburgh-Glasgow) dalam scope makro maupun mikro, dan kemudian merefleksikannya melalui berbagai riset atau studi, dan kemudian berakhir dalam output berupa pameran seni, instalasi model arsitektural, atau hanya sajian data hasil riset, atau apapun! (yap apapun! Hatch this!)

British council memfasilitasi semua kegiatan ini, full cost internship! Luar biasa menyenangkan, karena semuanya haratis! Ya walau gratis, Tapi tentu saja poundstering itu tidak saya hamburkan untuk mabok Carlsberg atau overdosis belanja fashion di UK. Kami hadir untuk belajar. Get busy living or get busy dying!

Banyak nilai dan pengalaman menarik baik dari segi akademis mapun non-akademis, namun yang ingin saya lontarkan disini lebih kepada kecanggihan workshop ini dari segi non-akademis (karena tentunya blog ini tidak boleh seboring jurnal akademis ala dosen stelan majapahit). Lebih menyentuh system. Mengenai “apa apaan sih mereka membentuk workshop ini?”

Bayangkan seperti apa keadaanya, ketika sebuah lembaga Negara menghabiskan uang begitu banyak untuk memfasilitasi anak muda (yang belum tentu IP-nya menyentuh angka 3) untuk berstimultan dan menghasilkan usulan bagi kotanya, usulan tersebut juga mayoritas outputnya berupa unit semi/non-functional (as for this case called an art work).

Sudah gila?

Nope at all. Mungkin ini yang disebut emerging creativity secara substantial dalam konteks sebuah creative city. Dimana creativity dan intuisi setiap orang adalah harga termahal sebuah nyawa kebudayaan (human capital), fenomena yang sejalan dengan teori the rise of the creative class dari Richard florida. Jangan dulu katakan ini sebagai industri, namun tilik lebih jauh pada apresiasi potensi. Partisipasi Pemikiran, intuisi dari berbagai perspektif pemikiran (brainstorm – brain damage) adalah salah satu bentuk partisipasi demokrasi dalam re-vising sebuah kota yang kontemporer, sebuah pendekatan yang real dan progresif dan terbukti bisa menaikkan sector ekonomi negara. Dan dari sini, seharusnya semua bisa percaya bahwa kepentingan politik ortodoks adalah bukan segala-galanya dalam perencanaan sebuah kebijakan (pada dimensi apapun), politic equals to shits here. its boring and useless.

Dan memang Yang seharusnya mengikuti workshop ini mungkin para elite berpikiran sempit yang menjamur di jejeran korsi ‘penguasa’ Negara ini, para new orders yang seharusnya mangkat atau diam di jaman new rave ini. Bugger off motherfucker.

Kembali ke topik: yap Workshop ini sengaja Mengemas berbagai student dari jepang, perancis, korea, new zeland, UK, Australia, Indonesia, Singapore, dsb Lewat berbagai rangkaian acara yang bisa dikatakan padat dan kencang; dari presentasi personal, team debate, collaboration, cultural tour, kunjungan ke Lighthouse Glasgow, liburan, makan-makan, senang-senang, physical model works, dan tentunya diakhiri dengan pameran karya students yang kemudian akan diadakan di Edinburgh, London, dan Sydney.

Menarik sekali ketika saya pribadi yang berlatar belakang arsitektur bisa ‘flip flop’ dengan seniman konyol-absurd dari jepang hanya karena Miyabi, menikmati arsitektur dari spectrum fotografi dan teoritis Ansel Adams, menjadi begitu seniman ketika pura pura mengerti performance art “macan putih berkipas angin”, dan membicarakan hal hal menarik apapun mengenai seluk beluk Edinburgh yang terasa sudah menjadi rumah sendiri dari perbincangan antar disiplin lainnya. Somehow, Tolerance was the powerrrr! Seperti kata pepatah yang dianjurkan oleh pegulat Booker T “Can you dig it sucka!”, yeababyyea!

Workshop begitu intensif, professor Richard Goodwin dari UNSW COFA adalah sang tetua dan principle workshop ini. Setiap metoda dan system pengajaran diberikan begitu detil dan menarik, out of box! Mungkin istilah itu yang perlu kita resapi dalam-dalam, mengolah system dengan analisa berbasis kreatifitas, mengolah setiap produksi melalui proses kreatifitas yang benar-benar keluar dari kotak yang sudah ada diluar!

2 minggu lamanya workshop ini berjalan, hingga sampai pada akhir acara, pembukaan pameran output hasil workshop. Setiap pengajar, professor dan teman teman berkumpul di galeri pameran untuk menutup acara ini sambil bersulang cheers and orange juice! Hasil karyanya begitu beragam dan menarik; dari video art, sculptures, installation art, graphic works, sampai sup ! yap benar! Sup yang hangat, berwortel dan berbuncis! tidak pakai babi dan disajikan untuk dimakan oleh semua pengunjung pembukaan pameran! Wawww Kurang apalagi? semuanya begitu canggih dan memotong pagar syaraf otak, it was not a skinhead band, but it was totally ‘madness!” And that’s that!

Sebenernya cerita ini terlalu di ringkas ala tukang pangkas mengingat begitu banyaknya kisah yang menarik dari 2 minggu tersebut yang sulit untuk di convert kedalam tulisan yang terbatas ini, namun bilamana ada space dimanapun yang terbuka untuk menerima cerita. Tawaran tersebut nampaknya akan selalu menariks untuk diisi!

berada jauh dari rumah, bersama teman-teman luar biasa yang liar dan bersemangat adalah sebuah pengalaman berharga yang memacu dan membakar-bakar. Namun kiranya kemudian ini akan menjadi tidak ada gunanya jika hanya disimpan sebagai kenangan pribadi yang tidak bernilai aplikatif.

Semoga banyak manfaat yang bisa didapat dan terus di share setelah workshop ini usai, tugas berikutnya adalah mengaplikasikan segala nilai positif dari workshop ini, agar setiap substansinya adalah manfaat untuk bersama, untuk kota kecil yang banyak masalah ini.

Semangat!

Artiandi Akbar, Runner Up Urbane Fellowship Program 2007
creative director Orders Magazine dan creative director Appleyard funhouse studio.

E : artiandi_akbar@yahoo.co.uk
W : artiandiakbar.multiply.com
PS : terimakasih banyak untuk celtic, Yang menyelimuti saya dari tusukan cuaca ala Minus 4 derajat celcius selama 2 minggu di Edinburgh! sweater kills! NUHUNPINGSAN!

2 Responses to "Cityscapers: by the throat “finding the nexus between Edinburgh and Glasgow”"

mantap nih arek2 bandung!! desainnya kaosnya keren, semuanya keren. keep on fire celtic (artinya apaan ya??) hehehe…

salam kenal

u r amazing…
keep that spirit!!!
It’s an honour 2 be one of ur friends…
hahahaha

Leave a Reply